Otoritas Iran dengan tegas menolak klaim bahwa negara tersebut bertanggung jawab atas serangan drone yang mengenai fasilitas energi Uni Emirat Arab (UEA), khususnya di wilayah Fujairah. Abu Dhabi sebelumnya mengatakan bahwa Teheran adalah dalang di balik serangan udara yang menargetkan instalasi minyak strategis di pantai timur negara mereka.
Menurut laporan dari Kantor Media Fujairah, kebakaran pecah di Zona Industri Minyak Fujairah setelah menjadi sasaran serangan drone yang diduga diluncurkan dari Iran. Insiden tersebut mengakibatkan tiga orang terluka—semuanya warga negara India—yang langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Tim pertahanan sipil UEA segera dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api yang membesar.
Pernyataan Penolakan dari Pemerintah Iran
Seorang pejabat militer Iran yang tidak diidentifikasi, sebagaimana dilaporkan oleh AFP pada Selasa (5 Mei 2026), dengan jelas membantah anggapan tersebut. “Republik Islam tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang dimaksud,” tegas pejabat tersebut saat memberikan pernyataan kepada media pemerintah.
Pejabat militer Teheran lebih lanjut mengklaim bahwa insiden yang terjadi adalah dampak langsung dari aktivitas militer Amerika Serikat. Mereka menyatakan bahwa AS berusaha untuk menciptakan koridor aman bagi kapal-kapal guna melintasi Selat Hormuz dengan cara yang dinilai ilegal. “Militer AS harus bertanggung jawab atas hal itu,” tegasnya.
Konteks Ketegangan Regional dan Selat Hormuz
Pada Minggu (3 Mei), Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS akan mulai memandu kapal-kapal dari negara-negara netral untuk melewati Selat Hormuz dengan aman, dimulai sejak Senin (4 Mei). Washington menyebut langkah ini sebagai upaya kemanusiaan untuk menolong para crew kapal yang terperangkap.
Respons Iran tidak lambat datang. Angkatan Laut Iran melepaskan sejumlah tembakan peringatan terhadap kapal-kapal perang AS di perairan tersebut pada hari yang sama. Pihak AS kemudian mengklaim telah menyerang tujuh kapal militer kecil milik Iran, meskipun angka ini masih diperdebatkan—seorang laksamana militer AS sebelumnya menyebutkan enam kapal yang dihancurkan, pernyataan yang ditolak oleh Teheran.
Respons dan Klaim Pertahanan UEA
UEA menanggapi insiden dengan mengkategorikan serangan sebagai “eskalasi berbahaya” di tengah upaya gencatan senjata dalam konflik Timur Tengah. Emirat tersebut menegaskan memiliki “hak penuh dan sah” untuk merespons serangan Iran.
Kementerian Pertahanan UEA dalam pernyataan terbaru melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat sedikitnya 15 rudal dan empat drone yang diduga berasal dari Iran. Laporan ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam pertukaran senjata antara kedua belah pihak.
Pejabat Iran mengakhiri pernyataan mereka dengan mengkritik pendekatan diplomatik Amerika. Mereka mendesak pejabat AS untuk menghentikan “perilaku buruk menggunakan kekerasan dalam proses diplomatik” dan berhenti dari “petualangan militer” di wilayah minyak yang sensitif, yang mereka argumenkan akan berdampak pada ekonomi global.